Angels and Demons

Manusia dengan segala keterbatasan yang ada, suka tidak suka, sadar tidak sadar, akan selalu “mengartikan” setiap pengalaman, perasaan dan imajinasinya sesuai dengan “harapannya” atau “ketakutannya”. Oleh karenanya pengalaman tentang suatu hal bagi seseorang akan berbeda dengan orang lain, bahkan seringkali bertolak belakang. Dan tentu setiap orang akan “menggenggam” erat “arti pribadi” masing-masing itu. Dari situlah asalnya “dunia” kita masing-masing, “realitas” kita masing-masing, yang “berbeda” satu dengan lainnya. Sebagaimana kata orang-orang bijak, “bagaimana duniamu, tergantung bagaimana kau mengartikan segalanya.”

Secara “big picture”, memang itulah “tujuan kehadiran” kita di realitas ini, sebagai “manusia”. Dari asal yang satu, kita “terpecah” dan tercipta ilusi “pemisahan” (illusion of separateness), yang memungkinkan kita “mengalami” (experience) hal-hal yang tidak bisa “dirasakan” secara “one”. Segala yang binary, duality, sedih-senang, baik-buruk, atas-bawah, baru terjadi pada saat pemisahan tersebut, yang menciptakan time dan space. Dari state the fool (unary), menjadi state the magician (binary).

Ilusi dualitas ini tidak mudah disadari dan dilalui. Karena sejatinya kita hanya dirancang untuk mengalami, sedangkan “memahami” adalah bonus saja. Karena sejatinya kita tidak perlu paham, karena “kita” sendiri yang merancang apa dan bagaimana realitas kita saat ini, kita hanya lupa (lebih tepatnya, sengaja lupa). Dan justru karena itulah, “adventure” kita dalam realitas ini menjadi seru, karena kita akan selalu “dihadapkan” dengan posisi “memilih”. Memilih diantara dua polaritas. Inilah bentuk “free will” kita. Tidak gampang, dan selalu menjadi hal “membingungkan” dan “seru” juga “kocak” setiap kali kita menonton “manusia” (baca: diri sendiri) mengeksekusi kehendak bebasnya. Banyak sekali standard ganda, banyak sekali cocokologi, banyak sekali bukanlah free will, tapi “ikut-ikutan free will orang lain”, dan sebagainya, dan sebagainya.

Di satu pihak kita (ingin) menerima bahwa kita semua pada dasarnya “satu”, tetapi tetap me-label si jahat dan si baik, ada malaikat ada iblis. Dan karena “pengalaman yang lalu” (biasanya bukan pengalaman sendiri, tapi pengalaman yang “disuntikkan” orang lain), maka kita punya “automatic thoughts”, bahkan ketika hanya mendengar atau membaca kata-kata “angelic” dan “demonic”. Kita sudah punya anggapan, kita sudah memutuskan, bahkan sebelum sidang dimulai.

Yang pasti hanya satu, yaitu kemampuan kita sebagai manusia sangat-sangatlah terbatas. Kita sering tidak sadar bahwa kemampuan mata kita untuk melihat sangat terbatas, hanya sebatas spektrum warna mejikuhibiniu. Dibawah itu (infra red) dan di atas itu (ultra violet), kita sudah tidak bisa melihat. Apalagi sinar X, sinar gamma, dll. Apakah bila kita tidak bisa melihat artinya tidak ada? Apakah kita bisa lihat sinar roentgen? tapi kok ada foto roentgen? Apakah kita bisa lihat sinar ultra violet? tapi kok pakai krim kulit anti UV? Apakah kita bisa melihat gelombang electromagnetic? tapi kok bisa ada handphone? ada microwave?

Pertanyaan yang sama, apakah kita bisa melihat “makhluk halus” (apapun itu sebutannya, angel, demon, hantu, setan, dewa, etc)? Dan karena kita tidak bisa lihat, maka artinya tidak ada? Tidak ada teknologi yang bisa membuktikan? Tidak ada teknologi, atau belum ada teknologi yang bisa membuktikan? Apa itu teknologi?
Ini contoh nyata, di satu sisi kehadiran segala yang “halus2” itu akan ditentang karena tidak ada (baca: belum ada) teknologi yang bisa membuktikan, tapi kehadiran “tuhan” akan diterima tanpa pertanyaan yang sama. Dan akan dijawab bahwa itu adalah “keyakinan”. No, saya tidak membahas ke arah itu.

Kembali ke judul, Angels and Demons. Kita secara normal tidak bisa melihat atau merasakan. Nah itu akan baik-baik saja bila demikian seterusnya.

Tetapi yang menjadi agak rumit adalah bila ternyata kita “memang bisa melihat atau merasakan” mereka. Si A bertemu dengan demon anu, si B mendengar angel anu berbicara kepadanya, dll. Dari “pengalaman” ini akan timbul realitas baru lagi, binary yang baru, bagi orang tersebut, dan tentu saja dia bebas “mengartikan” pengalaman tersebut dengan “free will” masing-masing.

Misalnya… Pengalaman angelic saya memang amat membahagiakan, mengharukan, luar biasa sekali, penuh cinta dan damai, tidak mungkin pengalaman seperti itu direkayasa “demon or satan”. Ehmm.. penjual narkoba juga menggunakan cara yang sama persis.

Bagaimana kita bisa yakin yang “hadir” itu angel atau demon (kalaupun dua kata ini masih layak dipisahkan) atau lainnya? Kan kemampuan manusia terbatas. Artinya pada saat itu terjadi salah satu dari dua hal berikut:

  1. Frekuensi kita naik (minimal “naik sementara”) sehingga bisa terkoneksi dengan frekuensi mereka yang lebih tinggi
  2. Mereka menurunkan frekuensinya sehingga kita mampu “menangkap” frekuensi mereka

Mungkin kita boleh “kalibrasi” dahulu apakah memang frekuensi kita sedang naik atau mereka yang menurunkan frekuensinya. Nah dari situ mungkin kita akan bisa lebih “aware” dalam melakukan interaksi dengan mereka, dan mengartikan apa “pesan” nya dan pengalaman seperti apa yang terjadi pada kita dengan interaksi tersebut. Tetap mindfulness kan.

Tidak perlu terjebak dengan stereotype. Kita biasanya setuju bila “meminta bantuan” (baca: evokasi) dari archangel rafael untuk penyembuhan misalnya (malah banyak yang pingin belajar). Tetapi di saat yang sama bila mendengar kata “evokasi” otomatis langsung dikaitkan dengan demon atau satan yang “jahat-jahat”. Dan karenanya bila mendengar kata “evokasi” (apalagi invokasi), otomatis pertama negatif dan menentang.

Berdoa dan “meminta perlindungan” bunda maria misalnya, tentu itu maksudnya evokasi “archetype” bunda maria, yang kita yakin dengan kehadirannya akan beresonansi dengan frekuensi kita, sehingga frekuensi kita “naik” dan otomatis frekuensi2 “rendah” yang akan “mengganggu” kita akan “pergi”. Itulah bentuk “perlindungan” kepada kita.

Berdoa dan bernyanyi adalah membaca mantra. Membuat tanda salib adalah membuat sigil. Salib dan rosario adalah amulet dan talisman. Bahkan mendekapkan kedua telapak tangan di depan dada pada saat kita berdoa, bisa dianggap kita sedang membuat sigil. Remember Dr Strange kalau mau membuka portal? Selalu diawali beberapa gerakan/sikap khusus kan.

Bagi saya pribadi, memahami hal-hal ini membuat saya semakin mencintai ajaran yesus, tentang mengenali siapa kita, tentang mencintai tiada batas, tentang mendahulukan orang lain daripada diri sendiri, dan banyak lagi cinta kasihnya. Karena pada dasarnya kita satu.

“Sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudaraku, kamu telah melakukannya untuk aku”.

Aku, kamu, dia. Semua satu.

#bangunpaginulis #day001